HargaSolar Dryer Dome, Inovasi untuk Pengering Hasil Tani 2022. Harga Solar Dryer Dome merupakan inovasi pengeringan hasil pertanian yang digunakan beberapa produk hortikultura seperti cabai, jahe, rumput laut, pisang, atau tomat. Solar dryer adalah alat alternatif metode hasil produksi pertanian lebih hemat energi. PembangunanSolar Dryer Dome Nama Paket: Pembangunan Solar Dryer Dome: Unit: LPSE Provinsi Jawa Barat: Pagu: Rp. ,00 (2,0 M) Tanggal: 07-Juni-2022 s/d 15-Juni-2022: Metode: Tender - Pascakualifikasi Satu File - Harga Terendah Sistem Gugur: Lokasi Pekerjaan: Desa Panyindangan Kec. Cisompet, Desa Mekarmukti Kec. Cibalong, Desa Solar Dryer Dome, teknologi pengeringan matahari dari Kementerian Pertanian (Kementan) mulai dirasakan manfaatnya oleh para petani. Salah satu petani yang merasakan manfaat penggunaan Lebihlanjut Ia bercerita bahwa pernah harga cabai jatuh hingga Rp4 ribu per kg. Saat-saat seperti inilah, ujarnya kelompok tani bisa dapat langsung menerapkan teknologi ini untuk pengeringan, termasuk komoditas hortikultura lainnya. SolarDryer Done - Improve your productivity and turnover with solar dryer solution. Benefits for commodity grower: lessen drying time - time saving, reduce losses caused by the spoilage / wastage up to 50% OT40. MONITOR, Bandung – Siapa yang tidak kenal dengan Ciwidey? Ciwidey merupakan nama desa sekaligus kecamatan di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat yang terkenal dengan wisata Kawah Putih. Daerah ini memiliki struktur tanah yang sesuai dengan budidaya tanaman hortikultura khususnya cabai dan bawang. Cakrawati, Kasi PPHH Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat menyampaikan bahwa pengembangan kawasan cabai terus dilakukan terutama pada sentra – sentra produksi utama yaitu di Kabupaten Bandung, Garut, Tasikmalaya, Majalengka dan Sukabumi. “Produksi cabai di Provinsi Jawa Barat terus mengalami peningkatan dari 2015 sebanyak menjadi ton pada 2017. Sejalan dengan pengembangan kawasan di kawasan tersebut juga dikembangkan olahan cabai untuk meningkatkan nilai tambah,” ujar Cakrawati. Direktorat Jenderal Hortikultura melalui Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat telah memfasilitasi pembangunan _Solar Dryer Dome_ SDD atau teknologi pengering cabai menggunakan cahaya matahari kepada Kelompok Tani Hataki di Desa Cobodas Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Advertisement - Keberhasilan pembangunan ini merupakan berkat kerja sama yang baik antara Dinas Pertanian Kabupaten Bandung dengan Kelompok tani penerima. Petani Cabai Ciwidey “Kerja sama ini juga disertai motivasi dan komitmen petani cabai yang tinggi. Kelompok tani ini sudah lama mendambakan teknologi SDD ini,” tambah Cakrawati. Teknologi SDD merupakan salah satu solusi pengeringan tradisional menggunakan sinar matahari. Keuntungannya, dapat mempersingkat waktu pengeringan cabai yang biasanya delapan hari menggunakan oven, menjadi empat hari menggunakan SDD. Keuntungan lainnya, lanjut Cakrawati, produk menjadi lebih bersih, higienis, kualitas produksi jauh lebih baik dalam mempertahankan warna, kulit, dan rasa aslinya. Media ini memiliki suhu 60 C dan jumlah kapasitas pengeringan yang besar yaitu sampai 800 kg. Teknologi SDD untuk petani cabai Bandung merupakan langkah awal penerapan teknologi pengeringan cabai di Indonesia. “Keberadaan teknologi pengering cabai ini menjadi solusi buat petani cabai pada saat panen raya dan harga cabai murah sehingga dapat dilakukan pengeringan secara dini dapat disimpan waktu lama,” ucap Samsuardi, Kasi Pengolahan Hasil Sayuran dan Tanaman Obat. Bandung merupakan daerah sentra produksi cabai kriting dan cabai rawit di Provinsi Jawa Barat. Daerah penghasil cabai berada di Kecamatan Pengalengan, Ciwiday, Pasir Jambu, Pacet, Ibun dan Paseh. Pada 2018 produksi cabai sebanyak kuintal untuk cabai merah dan kuintal untuk cabai rawit. Felly Fitriani, Kasi Sayuran Dinas Pertanian Kab Bandung mengatakan, “Fasilitasi teknologi SDD sangat membantu petani cabai dikarenakan pada saat panen raya dan harga cabai murah maka petani tidak mau panen cabai karena biaya panen lebih tinggi dari biaya produksi. Berkat teknologi, petani tidak khawatir lagi datang saat panen raya.” Felly bercerita bahwa pernah harga cabai jatuh hingga Rp 4 ribu per kg. Saat – saat seperti inilah, ujar Felly, kelompok tani bisa dapat langsung menerapkan teknologi ini untuk pengeringan, termasuk komoditas hortikultura lainnya. Nandang, anggota Kelompok Tani Hataki Desa Cobodas, Kecamatan Pasir Jambu Kabupaten Bandung merasa senang menerima bantuan ini. “Teknologi pengering ini dapat memperpanjang usaha kelompok di bidang pengolahan cabai karena selama ini masih terbatas pada budidaya. Kadang tidak tertolong pada saat harga cabai murah,” ujar Nandang. Cabai keriting yang telah dikeringkan masih menghasilkan bubuk cabai berkualitas. Warna cabai, kata Nandang, tetap merah dan tidak terjadi perubahan warna. Waktu simpan sampai enam bulan dengan tingkat penyusutan 70 persen dari cabai basah. Nandang bercerita, produk bubuk cabai yang dihasilkan sementara ini masih dalam penjajakan masuk ke restoran Thailand di Jakarta melalui perantara mahasiswa ITB magang di sini dan sudah membawa sampelnya. “Selain teknologi Solar Dryer Dome digunakan untuk pengeringan cabai, ke depan akan dimanfaatkan untuk pengeringan komoditas pertanian lainnya karena Ciwidey merupakan sentra hortikultura,” ujar Diah Ismayaningrum, Kasubdit Pengolahan Hortikultura. - Advertisement - Laporan Zubir Langsa LANGSA - Tim Pengabdian Universitas Samudra Unsam Langsa memanfaatkan Solar Dryer Dome Teknologi sebagai pengering bawang merah di Desa Suka Jadi, Kecamatan Banda Mulia, Aceh Tamiang. Kegiatan mengangkat tema "Pengabdian Kepada Masyarakat Program Pengembangan Iptek Bagi Masyarakat" ini diketuai oleh Syamsul Bahri, SP. MP, anggota Murdhiani, STP., MP dan Maria Heviyanti, Ketua Tim Pengabdian, Syamsul Bahri, kepada Senin 6/9/2021, menyebutkan, bawang merah Allium ascalonicum. L. adalah salah satu komoditas hortikultura yang cukup potensial dan diperkirakan dapat dikembangkan sebagai satu komoditas unggul. Selama ini di wilayah Kecamatan Banda Mulia merupakan daerah di Kabupaten Aceh Tamiang yang menjadi sentra budidaya tanaman bawang merah. Baca juga Jangan Terlalu Sering! Ini Bahaya Minum Air Es pada Tubuh, dr Zaidul Akbar Ungkap Efek Buruknya Penanganan pasca panen yang banyak dilakukan oleh para petani pada umumnya masih secara sederhana/tradisional. Caranya adalah umbi bawang disebarkan di tempat bebas menerima sinar matahari dengan alas terpal atau dibuatkan para-para pakai bambu. "Cara ini dianggap paling murah dan dapat diterapkan secara luas, namun ada beberapa kendala antara lain dapat menurunkan mutu dan meningkatkan kehilangan produksi," ujarnya. Syamsul menambahkan, untuk pengeringan dengan prinsip penjemuran perlu ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi. Baca juga Selain Benjolan, Ini 8 Ciri-Ciri Lain Kanker Payudara yang Jarang Disadari Kaum Wanita Metode pengeringan adalah salah satu tahapan umum dalam memperpanjang umur simpan shelf life produk pangan. Maka, Solar Dryer adalah salah satu jenis alat pengering yang telah banyak digunakan oleh home industry. Penggunaan alat ini dikatakan sangat ekonomis karena menggunakan tenaga matahari langsung dan tidak menggunakan listrik. Walaupun ada beberapa solar dryer yang menggunakan kipas sebagai penghantar panas dari solar collector. "Solar dryer sangat direkomendasikan untuk pengeringan dalam skala home industry dikarenakan alat yang ekonomis dan higienis," sebutnya. Baca juga dr Zaidul Akbar Ungkap Bahaya Minum Saat Makan, Kapankah Waktu yang Tepat? - Solar Dryer Dome, teknologi pengeringan matahari dari Kementerian Pertanian Kementan mulai dirasakan manfaatnya oleh para petani. Salah satu petani yang merasakan manfaat penggunaan solar dryer dome adalah Mandi. Petani hortikultura asal Karangasem, Bali itu mengatakan, solar dryer dome sangat membantu dirinya dalam mengeringkan cabai. "Saya panen waktu mendung dan langsung dimasukkan ke dalam solar dryer dome, hasilnya cabai kering sampai bagian dalam, cabai tidak berjamur dan warna masih merah,” ujar Mandi seperti dituturkan oleh Lisda S Damanik, salah satu narasumber dalam webinar Teknologi Pengolahan Hasil Hortikultura Sistem Pengeringan Dengan Tenaga Matahari Solar Dryer Dome yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Dulunya, Mandi membutuhkan waktu 7-10 hari untuk mengeringkan cabai, itu pun ada yang busuk dan terbuang. Setelah menggunakan solar dryer dome, pengeringan hanya butuh waktu kurang dari 5 hari dan dengan tingkat kekeringan 90-100 persen. Baca Juga Diselidiki Sejak Lama, KPK Tegaskan Pengusutan Dugaan Korupsi Kementan Tak Ada Unsur Politik "Hasilnya bisa dimanfaatkan karena semua tidak ada yang busuk maupun terbuang," katanya. Lisda juga menekankan bahwa polycarbonate pada solar dryer dome ini sangat berperan penting untuk menjaga mutu hasil hortikultura yang dikeringkan. “Keunggulan solar dryer dome ini umur produk lebih lama, aroma produk tetap kuat, rasa produk tidak hilang dan yang paling penting mutu berkualitas.” Perlu diketahui, pengeringan banyak dilakukan pada olahan pertanian semisal produk hortikultura dengan cara mengurangi kandungan air. Tujuannya agar daya tahan produk hortikultura dapat terjaga lebih lama dengan kualitas yang baik. Pada umumnya, petani maupun pelaku usaha pengolahan hasil hortikultura di Indonesia melakukan pengeringan mengandalkan sinar matahari. Meskipun metode ini murah namun produk yang dikeringkan seringkali mengalami kerusakan besar yang disebabkan oleh hujan, serangga, burung dan jamur. Baca Juga Kekuatan Pertanian Penting Bagi Negara, Syahrul Yasin Limpo Tekankan Pengembangan Teknologi Karenanya, di bawah Menteri Pertanian Mentan, Syahrul Yasin Limpo, Kementan selalu berusaha merancang program yang berpihak kepada para petani, termasuk petani holtikultura. Tercatat sejak 2019, Kementan memfasilitasi bangunan pengering solar dryer dome kepada pelaku usaha pengolahan yang selama ini masih menggunakan metode pengeringan tradisional.

harga solar dryer dome