KasusGizi Buruk di Papua Harus Mendapatkan Perhatian Khusus. Pembaca yang budiman, kali ini saya mencoba menulis mengenai gizi buruk di Indonesia terutama di daerah terdepan Indonesia, lebih tepatnya di Papua. Kenapa papua, ya karena papua saya anggap tanah kelahiran saya yang kedua. Saya mendapatkan banyak pelajaran hidup di sana. terjawab• terverifikasi oleh ahli Di beberapa tempat di Indonesia terjadi kasus gizi buruk. Dalam mengkaji permasalahan tersebut maka yang harus dikaji adalah faktor manusia dan kondisi fisik di mana kejadian tersebut terjadi. Pendekatan geografi yang berkaitan dengan kasus tersebut yaitu DiProvinsi Papua, yang sedang mengalami wabah gizi buruk, UpdateInformasi Covid-19 Indonesia . Kasus Positif: 5,998,953 +3,077: Sembuh: 5,714,662 +12,499: Meninggal: 154,670 +100: KASUS anak penderita gizi buruk di Jakarta Utara sebagian besar terjadi di permukiman ilegal yang masih menjamur akibat arus urbanisasi. Dari 34 kasus gizi buruk sepanjang Januari tahun ini, sembilan di antaranya Beberapatempat di Indonesia terjadi kasus gizi buruk. Dalam mengkaji permasalahan tersebut, maka yang harus dikaji adalah faktor manusia dan kondisi fisik di mana kejadian tersebut terjadi. Pendekatan geografi yang dapat digunakan untuk mengkaji kasus tersebut adalah pendekatan. keruangan kelingkungan kompleks wilayah aktivitas manusia B66ft. Pendekatan geografi adalah upaya dalam penyelesaian masalah geografi. Ada 3 tiga pendekatan geografi, yakni Pendekatan spasial/keruangan, pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Pendekatan ekologi/kelingkungan, penekanannya bukan lagi pada eksistensi ruang, namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan variabel lingkungan yang ada. Dalam pendekatan kelingkungan, kerangka analisisnya mengkaitkan hubungan antara makluk hidup dengan lingkungan alam. Pendekatan kompleks wilayah/kewilayahan, permasalahan yang terjadi di suatu wilayah tidak hanya melibatkan elemen di wilayah itu. Permasalahan itu terkait dengan elemen di wilayah lain, sehingga keterkaitan antar wilayah tidak dapat dihindarkan. Soal tersebut membahas mengenai faktor fisik dan faktor manusia dimana ada hubungan antara kedua faktor tersebut. Pada beberapa wilayah yang terjadi gizi buruk, faktor lingkungan juga menjadi salah satu penyebab hal tersebut. Jawaban yang tepat untuk menjawab soal tersebut adalah B. pendekatan kelingkungan Stunting menjadi salah satu fokus permasalahan kesehatan yang benar-benar ditargetkan tereliminasi pada pencapaian Indonesia Emas tahun 2045 mendatang. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Riskesdas 2018 menemukan tingkat stunting di Indonesia mencapai 30,81 persen. Persentasi ini disebutkan sudah mengalami penurunan dibandingkan kasus stunting pada tahun 2013 yang mencapai 37,2 saja, angka ini masih jauh di bawah standar kasus stunting yang bisa ditoleransi oleh Organisasi Kesehatan Dunia WHO yaitu paling banyak setidaknya hanya 20 persen saja. Akan lebih baik jika kasus kejadian stunting bisa mencapai di bawah 20 persen. Seperti diketahui, stunting merupakan permasalah kesehatan yang erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan gizi. Baca juga Ahli Sebut Lagu Bantu Stimulasi Positif Anak untuk Pahami Gizi Seimbang Lantas, bagaimana masalah gizi di Indonesia?Ahli gizi dan Ketua Tim Ahli Pengembang Panduan Isi Piringku untuk anak usia 4-6 tahun, Prof Dr Ir Sri Anna Marliyati MSi mengatakan bahwa masalah gizi di Indonesia itu ada tiga beban malnutrisi yang terjadi. "Di kita itu masalah gizi ada namanya triple burden of malnutrition tiga beban malnutrisi," kata Anna dalam acara bertajuk Upaya Penguatan Edukasi Perilaku Gizi Seimbang untuk Anak pada Masa Adaptasi Kebiasan Baru, Jumat 28/8/2020. Ketiga beban malnutrisi tersebut adalah gizi lebih, gizi kurang, dan defisiensi zat gizi mikro. Berikut penjelasan rincinya dan ciri atau potensi risiko dari ketiga beban malnutrisi yang ada. Baca juga Ahli Perhatikan Gizi dan Psikologis Klinis di Masa Emas Anak Usia 1 sampai 5 Tahun 1. Gizi berlebih Anna menjelaskan bahwa, gizi berlebih ini umumnya dapat menjadikan seorang anak mengalami berat badan berlebih atau obesitas. Berat badan berlebih obesitas atau kegemukan ini berlaku jika anak itu dibandingkan dengan rata-rata berat badan anak-anak seusianya. "Bahayanya obesitas itu sendiri berisiko terhadap penyakit tidak menular PTM," kata Anna. Hal ini mengkhawatirkan karena banyak jenis PTM yang justru lebih berisiko tinggi terhadap kematian dibandingkan penyakit yang menular. Beberapa contoh penyakit yang masuk dalam kategori PTM dan terbilang sangat berbahaya adalah penyakit kanker, diabetes, hipertensi, stroke, penyakit kardiovaskular, dan lain sebagainya. Tahukah kamu bahwa masalah gizi buruk di kalangan kelompok balita masih menjadi perhatian utama di berbagai negara, khususnya Indonesia. Dilansir dari laman sekitar 45 persen kematian pada anak-anak di bawah usia 5 tahun yaitu terkait dengan gizi buruk. Apa lagi masalah gizi yang masih banyak terjadi di Indonesia? Berikut pembahasan lengkapnya 3 Jenis masalah gizi di Indonesia Melansir situs Unicef Indonesia, ada 3 masalah gizi di Indonesia yang mengancam masa depan jutaan anak dan remaja. Berikut 3 masalah gizi di Indonesia yang harus segera ditangani 1. Stunting bertubuh pendek Stunting disebabkan karena malnutrisi atau kekurangan gizi kronis dan penyakit berulang selama kanak-kanak. Anak yang mengalami stunting paling umum ditandai dengan tubuh yang lebih pendek dari anak kebanyakan seusianya. Tak hanya berdampak pada kesehatan fisik, stunting juga membatasi kemampuan kognitif anak secara permanen dan menyebabkan kerusakan yang lama. Baca Juga Agar Tumbuh dengan Baik, Penuhi Gizi Seimbang Untuk Anak Remaja 2. Wasting bertubuh kurus Masalah kekurangan gizi lain di Indonesia adalah tingginya angka wasting pada anak-anak. Kondisi wasting ditandai dengan tubuh anak yang sangat kurus. Wasting adalah masalah kekurangan gizi akut yang disebabkan oleh penurunan berat badan secara drastis atau kegagalan dalam proses menaikkan berat badan. Anak-anak yang mengalami masalah gizi wasting atau pun kegemukan memiliki risiko kematian yang tinggi. 3. Kasus obesitas pada orang dewasa Tak hanya anak-anak, orang dewasa di Indonesia juga punya masalah gizi yakni kegemukan atau obesitas. Unicef menyebut angka kegemukan atau obesitas di Indonesia sudah naik hampir 2 kali lipat selama 15 tahun terakhir. Masalah gizi yang satu ini meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit berbahaya seperti diabetes dan juga penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke. Baca Juga Serba-serbi Obesitas pada Anak dan Bahayanya bagi Kesehatan Masalah gizi buruk anak di Indonesia Gizi buruk merupakan salah satu hal yang menjadi masalah global, termasuk di Indonesia. Pemenuhan gizi yang belum tercukupi baik sejak dalam kandungan hingga bayi lahir dapat menjadi pemicunya. Gizi buruk dapat berupa berat badan rendah terkait tinggi badan, serta tumbuh kembang yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Salah satu bentuk luas dari gizi buruk ialah stunting. Stunting adalah kondisi yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut menyebabkan anak tumbuh lebih pendek dari anak normal seusianya. Selain itu, anak dengan stunting seringkali juga memiliki keterlambatan pola pikir dan diyakini sebagai akibat tidak terpenuhinya zat gizi. Gejala gizi buruk pada anak Dilansir dari laman berikut merupakan tanda-tanda umum dari kekurangan gizi Penurunan berat badan yang tidak disengaja, kehilangan 5 persen hingga 10 persen atau lebih dari berat badan selama 3 sampai 6 bulan Berat badan rendahKurangnya minat makan dan minumMerasa lelah sepanjang waktuLemah dan lesuSering sakit dan butuh waktu lama untuk pulihPada anak-anak, tidak tumbuh atau tidak menambah berat badan pada tingkat yang diharapkan Penyebab masalah gizi buruk di Indonesia Ada beberapa faktor yang penyebab gizi buruk di dunia termasuk Indonesia. Masalah gizi buruk menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan kesehatan pada tumbuh kembang anak, di antaranya yakni Pemberian makan yang terbatas dalam jumlah, kualitas dan variasiPenyakit yang mungkin memiliki konsekuensi jangka panjang untuk pertumbuhanInfeksi subklinis akibat dari paparan lingkungan yang terkontaminasi dan kebersihan yang buruk Stunting di Indonesia Melansir data Kemenkes RI pada tahun 2018, setidaknya 1 dari 3 balita di Indonesia mengalami stunting. Prevalensi masalah stunting di Indonesia berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi PSG 2016 mencapai 27,5 persen. Berdasarkan standar WHO, angka prevalensi stunting di atas 20 persen tersebut sudah termasuk ke permasalahan yang kronis. Angka ini juga menempatkan Indonesia di posisi teratas angka stunting terparah di Asia tenggara. Negara tetangga kita yakni Malaysia, angka prevalensinya hanya 17,2 persen. Stunting sangat dipengaruhi oleh asupan gizi yang didapatkan anak di hari pertama kehidupan. Itu artinya sejak ia masih di dalam kandungan sampai usianya 2 tahun. Penyebab stunting di Indonesia Masalah gizi buruk berupa stunting di Indonesia sudah jadi perhatian oleh pemerintah. Apalagi angka prevalensinya yang kian naik dan jauh dari standar WHO. Berikut beberapa penyebab masalah gizi berupa stunting di Indonesia Kurangnya asupan gizi pada hari pertama kehidupan anak. Yakni sejak dari kandungan sampai usia 24 bulan. Ini bisa dipengaruhi faktor edukasi ibu, ekonomi, serta sosial fasilitas sanitasiKeterbatasan atau minimnya akses ke air bersihKebersihan lingkungan yang kurang terjaga. Kondisi lingkungan yang jorok bisa sebabkan tubuh harus bekerja lebih keras melawan sumber penyakit sehingga proses penyerapan gizi terhambat Bahaya stunting pada anak Masalah kekurangan gizi pada anak yang menderita stunting dapat berdampak buruk pada kehidupan mereka, selamanya! Melansir buletin stunting yang diterbitkan Kemenkes RI, berikut pembahasan mengenai dampak stunting pada anak. Efek jangka pendek Risiko terserang penyakit meningkat, sehingga risiko kematian juga ikut meningkatPerkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimalPeningkatan biaya kesehatan Efek jangka panjang Pertumbuhan postur tubuh yang tidak optimal saat anak beranjak dewasa, mereka menjadi lebih pendek dari standar orang seusianyaMeningkatnya risiko obesitas dan penyakit lainnyaMenurunnya kesehatan reproduksiKapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolahProduktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal Dampak stunting dan masalah gizi di Indonesia pada negara Melansir laporan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan TNP2K, stunting tak hanya memberikan dampak pada si anak. Stunting juga punya efek jangka panjang panjang pada pertumbuhan negara. Sebab dari produktivitas rendah bisa mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi yang nantinya bisa meningkatkan angka kemiskinan dan memperlebar angka ketimpangan ekonomi. Mencegah terjadinya stunting Pemerintah sendiri punya program untuk mengatasi masalah stunting di Indonesia. Program ini dilakukan mulai dari edukasi ibu soal pentingnya asupan gizi sejak hamil hingga melahirkan. Dan berbagai program lain yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016. Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting pada anak di antaranya Memastikan ibu yang hamil mendapat asupan nutrisi yang cukupMendorong para ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada anak minimal 6 bulanMelanjutkan program ASI berbarengan dengan MPASI atau Makanan Pendamping ASI untuk memastikan anak mendapat nutrisi yang baik dan cukupIbu didorong untuk rutin memeriksakan anaknya ke PosyanduMemastikan kebutuhan air bersih terpenuhiMeningkatkan fasilitas sanitasiMenjaga kebersihan lingkungan Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini! Jakarta - Beberapa waktu lalu, dua hari berturut-turut sebuah koran ternama Tanah Air mengulas data perihal gizi buruk yang menimpa anak Indonesia Timur. Dalam koran itu dijelaskan bahwa status gizi anak balita di wilayah timur memasuki tahap mengkhawatirkan. Wilayah yang paling tinggi terjangkit malnutrisi adalah provinsi Nusa Tenggara Timur NTT.Anak balita berstatus gizi buruk di NTT pada 2018 mencapai 29,5 persen. Secara nasional angka ini lebih tinggi dibandingkan wilayah Maluku dan Papua Barat. Bukan berarti kedua wilayah itu lebih baik, melainkan banyak kasus gizi buruk banyak tak sebenarnya tidak kaget betul saat membaca data itu, karena sudah terbiasa menghadapi pemandangan malnutrisi anak di NTT secara lebih dekat. Satu tahun mengabdi menjadi relawan guru di pedalaman NTT, yakni pulau Raijua rasanya tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menceritakan kepada pembaca mengenai sekelumit persoalan akar rumput yang terjadi di wilayah paling terpelosok terdiri atas pulau-pulau kecil yang menyebabkan wilayah ini rentan mendapatkan pasokan air bersih. Bahkan banyak daerah-daerah terpencil di sana yang mengalami kekeringan ekstrem. Tidak sedikit pula mata air di sumur milik warga benar-benar kering akibat kemarau panjang, menyebabkan masyarakat tidak dapat menerapkan pola hidup bersih sebagaimana diamanatkan Kementerian Kesehatan. Kondisi pelik demikian tidak hanya berdampak pada kesehatan balita melainkan memicu penyakit pada semua makhluk hidup, termasuk orang dewasa dan desa Kolorae, Raijua tempat saya tinggal kurang lebih seperti itu kondisinya. Musim kemarau di sana berlangsung sekitar sembilan bulan, dan selama itu pula warga mengandalkan beras raskin dan kacang hijau untuk makan, air sumur untuk penghidupan, dan uang bantuan seperti Program Keluarga Harapan PKH, Kartu Indonesia Sehat KIS, dan Kartu Indonesia Pintar KIP untuk biaya hidup. Tidak heran, setiap bulannya tidak sedikit warga yang bolak-balik ke puskesmas untuk berobat. Banyak pula ibu hamil yang kurang mengonsumsi makanan bergizi, berdampak pada kondisi anak lahir dengan berat badan rendah, dan kurus. Sepanjang tahun lalu, cukup banyak anak-anak di sana terkena penyakit akibat tidak mendapatkan asupan gizi lengkap, bahkan satu-dua di antaranya meninggal karena diare akut. Lalu, apa saja intervensi pemerintah? Oh, tentu banyak sekali. Kucuran bantuan dana tunai dan infrastruktur kerap diberikan pemerintah pusat maupun pemda saban tahun, seperti bantuan dana PKH, KIS, dan KIP seperti yang tadi telah disebutkan. Setiap tiga bulan sekali warga berbondong ke bank untuk mengambil bantuan sosial itu. Tidak hanya itu, setidaknya dua kali dalam satu tahun pihak sekolah juga membagikan uang Bantuan Siswa Miskin BSM kepada beberapa siswa yang berhak mendapatkannya. Selain bantuan tunai itu, warga desa juga mendapat kemudahan seperti tidak ada iuran sekolah. Ditambah lagi, masyarakat desa juga mendapatkan bantuan berupa pembuatan waduk atau embung dari dana desa. Setiap desa sekurang-kurangnya memiliki 4 embung dengan harapan bisa menampung air hujan untuk memenuhi penghidupan warga selama musim kemarau berlangsung, walau pada kenyataannya banyak embung yang berubah menjadi kering kerontang saat memasuki pertengahan musim juga tidak hanya diberikan oleh pemerintah. NTT merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki lembaga donor paling banyak. Saking banyaknya, Pulau Sumba dijuluki sebagai "Kota Seribu NGO". Telah banyak kegiatan kemasyarakatan terutama bidang pemberdayaan ibu dan anak yang dilakukan di berbagai penjuru dirunut kembali, berbagai kucuran bantuan sosial memang sudah banyak dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa. Namun, mengapa daerah elok semacam NTT berada dalam urutan teratas dalam hal malnutrisi? Apa yang salah? Ke mana saja bantuan itu?***Secara sederhana, biaya hidup di desa sangatlah kecil dibanding di kota besar. Sekalipun hanya memiliki uang ratusan ribu, orang masih bisa bertahan hidup di desa paling terpencil. Pola kekerabatan yang kuat, solidaritas tinggi, dan penuh kekeluargaan itulah yang membuat saya bisa bertahan hidup dengan biaya minim di kekeluargaan sangat kental di sana. Bagi mereka setiap tetangga adalah keluarga, setiap pertalian darah seperti marga atau kekerabatan yang sama akan dianggap saudara kandung. Bahkan bila seorang warga memiliki marga yang sama dengan kepala desa walau tak saling kenal, ia akan bangga menyebut "beta pung sodara itu kepala desa" -kepala desa itu saudara coba bayangkan, dalam situasi persaudaraan akut semacam itu, apapun kebijakan penyaluran bantuan sosial yang dibuat pemerintah akan sulit tepat sasaran. Di sinilah problem itu desa menentukan arah pembangunan desa. Mereka pula menguasai berbagai gelontoran dana bantuan sosial. Kerap kali warga kesulitan mengurus bahkan tidak mendapat bantuan PKH dan bantuan lain, karena ada sentimen kemargaan maupun terjadi persoalan pribadi dengan si kepala desa. Alhasil, mereka tak dapat bantuan apa-apa sementara warga lain yang memiliki kesamaan marga, keakraban dengan elite desa justru mendapat banyak kasus lain kerap terjadi. Saat musyawarah desa, seorang ibu hamil muda mengomentari kebijakan desa yang keliru karena dirinya tidak mendapat dana PKH lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Usut punya usut rupanya suami si ibu tadi adalah rival politik dari si kepala desa. Pola semacam inilah yang terjadi hingga ke tataran elite pemda. Desa tertentu mendapatkan berbagai bantuan lunak, sedangkan desa lain tidak. Hal ini menjadi pangkal dari alokasi dana yang tidak tepat pula yang terjadi di sekolah. Dengan alasan "beta pung sodara", pengelola sekolah bertindak nepotisme. Kepala sekolah memiliki wewenang penuh dalam menetapkan siapa saja anak yang mendapatkan dana bantuan dari pemerintah. Orangtua murid tentu tidak berdaya dan tidak memiliki pola pikir kritis. Sebagian besar orang desa memiliki kehalusan budi yang tinggi, sehingga untuk mengkritik pun tidak berani.***Saya ingin tutup tulisan ini dengan sebuah cerita. Bantuan PKH yang terus dikucurkan memang memiliki dampak positif. PKH diprioritaskan bagi keluarga fakir, ibu hamil, dan anak. Mereka pula mendapatkan fasilitas kesehatan dan tiga bulan ibu-ibu senang karena dapat uang PKH. Anak sekolah pun menikmati duit hasil pajak rakyat itu. Menariknya, sebagai seorang guru SD, saya memperhatikan pakaian anak murid, maaf, itu-itu saja seperti kucel dan kadang robek-robek. Anak-anak usia sekolahan sangat gemar membawa bumbu penyedap masakan instan ke sekolah sebagai camilan. Alis saya mengernyit bila melihat hal itu karena mereka mendapat kerap mendapat uang bantuan. Di sisi lain, saya melihat banyak keluarga yang memiliki banyak anak. Jarak usia antaranak pun berdekatan. Iseng-iseng saya tanya ke seorang bapak rumah tangga mengapa ia memiliki banyak anak. Jawabannya bikin saya terkekeh. "Pak guru, bikin anak itu sekarang enak, dapat uang. Istri hamil dapat uang PKH. Lahiran gratis di puskesmas. Anak juga dapat uang dari PKH. Makanya tiap tahun saya bikin anak."Jonathan Alfrendi alumni Pengajar Muda XIV Yayasan Indonesia Mengajar, penempatan di Kabupaten Sabu Raijua NTT mmu/mmu STATUS GIZI INDONESIA ALAMI PERBAIKANDIPUBLIKASIKAN PADA RABU, 30 JANUARI 2019 000000, DIBACA KALIJakarta, 30 Januari 2019Masalah gizi di Indonesia terutama di beberapa wilayah di bagian Timur seperti NTT dan Papua Barat, dinilai masih tinggi. Namun, secara nasional, status gizi di Indonesia mengalami perbaikan yang signifikan. Sebagai contoh provinsi NTT penurunan prevalensi stunting sebanyak hampir 2 % pertahun penurunan, hal ini menunjukkan upaya multisektor yang terkonvergensi pusat dan daerah. Penderita gizi buruk tentu tidak akan lepas dari pantauan tenaga kesehatan, dimana pun kasusnya tenaga kesehatan dibentuk untuk selalu siaga membantu perbaikan gizi status gizi nasional dapat dilihat berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Riskesdas 2018. Pada prevalensi Gizi Kurang Underweigth perbaikan itu terjadi berturutturut dari tahun 2013 sebesar 19,6% naik menjadi 17,7% 2018. Prevalensi stunting dari 37,2% turun menjadi 30,8%, dan prevalensi kurus Wasting dari 12,1% turun menjadi 10,2%.Dalam perhitungan data kasus gizi buruk harus diambil dari indeks berat badan menurut tinggi badan BBTB atau yang disebut sangat kurus sesuai standar WHO yang disertai dengan gejala klinis, jelas Dirjen Kesehatan Masyarakat Kirana Pritasari, di Jakarta 30/1.Ia menegaskan, intervensi terhadap masalah gizi terutama di wilayah Indonesia bagian Timur sudah ditangani atau diintervensi oleh tenaga gizi di Puskesmas. Hasil Riset Tenaga Kesehatan Risnakes tahun 2017, Tenaga Gizi di seluruh Indonesia sudah memenuhi 73,1% menjelaskan, untuk 26,1% Puskesmas yang belum memiliki Tenaga Gizi utamanya di daerah terpencil dan sangat terpencil, Kementerian Kesehatan memiliki program Nusantara Sehat. Nusantara Sehat terdiri dari tenaga tenaga kesehatan seperti dokter, dokter gigi, tenaga gizi, perawat, bidan, tenaga farmasi, sanitarian, analis kesehatan dan tenaga kesehatan masyarakat yang dilatih untuk ditempatkan di Puskesmas selama 2 intervensi untuk pemulihan gizi buruk yaikni dengan pemberian makanan tambahan. Kementerian Kesehatan sudah mendistribusikan makanan tambahan berupa Biskuit dengan kandungan kaya zat gizi ke seluruh Puskesmas di Indonesia termasuk wilayah itu, dilakukan juga kegiatan surveilans gizi yang dimulai dari masyarakat di Posyandu, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan. Pengumpulan data individu yang teratur akan bisa mendeteksi secara dini masalah gizi yang dihadapi, sehingga analisis dan intervensi yang dilakukan akan tepat sasaran dan tepat lain dalam mencegahan masalah gizi adalah dengan perubahan perilaku masyarakat. Komitmen pemerintah baik pusat maupun daerah sudah tertuang dalam regulasi yang dikeluarkan oleh pemerinta pusat dan Pemerintah wilayah Indonesia Timur sudah ada 10 Kabupaten yang menerbitkan regulasi Komunikasi Perubahan Perilaku dalam rangka pencegahan stunting dan masalah gizi ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili 021 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id. D2

di beberapa tempat di indonesia terjadi kasus gizi buruk